Kamis, 21 Mei 2015

Bagaimana Cara Memotivasi Anak Untuk Belajar?


1. Maafkan dan beri anak dukungan
Berikan dukungan pada anak Anda. Motivasi memang sangat dibutuhkan oleh anak. Dukungan dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Misalnya, saat anak mendapat nilai yang jelek di sekolah, Anda sebagai orangtua harus memaafkan dan jangan langsung memarahinya apalagi dengan menyebutnya anak bodoh. Ini akan tertanam dalam benak anak dan menghancurkan semangatnya. Sebaliknya, Anda harus meluangkan waktu untuk berdiskusi dengannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tanyakan padanya dengan baik, kenapa dia bisa mendapat nilai yang jelek dan kemudian berikan solusi untuknya.

2. Tanya tentang sekolahnya
Ketika anak pulang sekolah, cobalah bertanya padanya : halo sayang, apa yang bikin menyenangkan disekolah hari ini?. Dengan pertanyaan semacam ini otomatis otak anak akan berfikir dan mencari hal-hal yang dia alami dan menyenangkan disekolah tadi. Ini secara tidak langsung akan memberitahukan pada anak Anda bahwa sekolah adalah tempat yang sangat  menyenangkan dan dia mau belajar lebih semangat lagi.

3. Lakukan Hypnosleep
Ketika anak sedang tidur lakukan Hypnosleep, katakan pada telinganya: semakin hari, belajar semakin menyenangkan, sama dengan bermain, belajar juga sungguh sangat menyenangkan, sangat mudah sekali bagi kamu untuk belajar berhitung, menghafal …. dan lain-lain. Ini akan tertanam di alam bawah sadar dan mensugestinya agar anak mau dan semangat dalam belajar. 

4. Jelaskan manfaat belajar pada anak
Jelaskan pada anak Anda tentang manfaat dari pelajaran di sekolah yang sedang dipelajari, terutama yang sesuai dengan minat anak tersebut. Misalnya dengan belajar perkalian, maka saat liburan naik kelas nanti nanti kamu bisa dengan mudah menghitung berapa harga-harga barang yang akan kamu belinanti di tempat liburan dan kamu bisa membandingkannya dengan harga di di tempat lain atau di mall terdekat. Jika kamu pintar berbicara dalam bahasa inggris maka nanti kamu akan mudah berkomunikasi dengan wisatawan asing ditempat liburan.

5. Beri anak pujian motivasi melalui orang lain
Mintalah pada guru les pelajarannya (jika anak Anda les) agar sering-sering mengatakan pada anak Andabahwa anak kita adalah anak yang cerdas dan hebat. Pujian yang tulus dan memotivasi semangat anakjauh lebih penting untuk anak dari pada mengajarkan anak berbagai teknik berhitung atau teknikmenghafal cepat. Mintalah bantuan pada orang-orang sekitar termasuk gurunya untuk meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri anak Anda.

6. Membacakan cerita untuk anak
Jika anak kita masih sangat kecil dan masih senang dibacakan cerita atau dongeng, bacakan dia dongeng dengan posisi memangkunya. Maksudnya dengan posisi yang cukup nyaman, serta memudahkanAnda untuk memberikan kecupan kasih sayang atau pelukan penuh cinta. Tujuannya untuk mengkaitkanantara membaca buku dengan rasa cinta orangtua dan mengajarkan anak bahwa buku adalah hal yang sangat mengasyikan dan menyenangkan. 

7. Disiplin jam belajar
Anda harus membuat sebuah kesepakatan dengan anak tentang jam belajar. Misalnya, anak harus belajar satu atau dua jam dalam sehari di rumah. Namun, jadwalnya mesti disesuaikan dengan jam sekolah anak Anda. Beri anak Anda waktu untuk makan dan juga beristirahat sebelum mulai belajar di rumah. Misalnya bisa di sore atau malam hari. Saat waktu belajar tiba, orangtua harus konsisten dananak tidak boleh menonton TV, bermain atau bermain games.

8. Suasana belajar yang menyenangkan
Setiap orang tentu mempunyai metode yang berbeda-beda dalam belajar. Namun, untuk anak, terutama yang masih kecil, Anda harus menggunakan metode belajar sambil bermain agar Anak tidak merasabosan. Misalnya, Anda dapat mengajarkan bahasa Inggris pada anak melalui film kartun atau lagu baratuntuk anak-anak. Dengan begitu, anak Anda akan merasa senang dan sekaligus mendapatkan banyakpengetahuan baru. Suasana belajar yang menyenangkan merupakan syarat penting dan mutlak yang diperlukan agar anak senang belajar

Menurut hasil sebuah penelitian tentang cara kerja otak anak, dapat dibuktikan bahwa bagian pengendali memori yang berada di dalam otak akan sangat mudah untuk menerima dan merekam informasi apapun yang masuk ke dalam otak jika sedang berada dalam suasana yang menyenangkan. Membuat anak senang belajar jauh lebih penting daripada kita terus-menerus menuntut anak agar mau belajar untuk menjadi juara atau meraih prestasi tertentu. Anak yang meraih suatu prestasi tapi diperoleh dengan cara terpaksa biasanya tidak akan berta'han dalam waktu yang la'ma. Anak yang dapat merasakan bahwa belajar itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan akan menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar dalam hatinya dan akan sangat berpengaruh pada kesuksesan belajarnya di masa-masa yang akan datang.

9. Buat surat rahasia
Tuliskan sebuah surat rahasia dari orangtua unutuk anak, kita bisa menuliskan: Nak, Ibu telah meletakansebuah surat rahasia untuk kamu. Cuma ibu dan kamu yang tahu apa isinya. Ibu sudah letakan dibawah bantal tidurmu, setelah makan nanti di baca ya. Isi suratnya bisa berupa kata-kata yang dapatmenyemangati atau memotivasi anak dalam kegiatan belajar dan juga sekolahnya.

10. Jadilah contoh yang baik
Jalan lain yang menjadi cara memotivasi anak agar rajin belajar, Anda juga harus memberikan contohdan teladan yang baik pada anak. Misalnya saat anak Anda sedang belajar, sebaiknya Anda jangan malah menonton TV ataupun cuma tiduran. Usahakan agar Anda juga melakukan aktivitas lain, seperti membaca sebuah buku, novel ataupun lainnya. Jika perlu, Anda terus berada di samping anak saat diasedang belajar.

11. Jeda dalam belajar
Beri anak waktu jeda misalnya setiap 20 menit pada saat belajar. Ini akan sangat efektif daripada anak belajar terus menerus selama 1 jam tanpa istirahat sama sekali. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang anak hanya mampu berkonsentrasi penuh paling lama sekitar 20 menit. Lebih dari 20 menit itu daya konsentrasi anak akan mulai menurun. Memberi jeda waktu untuk beristirahat 1-2 menit saat belajar akan mampu mengembalikan daya konsentrasi anak agar dapat kembali seperti semula.  

12. Kenali tipe belajar anak
Kenali tipe dominan dalam cara belajar anak, apakah tipe belajar anak Anda adalah Auditory, yaitu anak lebih mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan, tipe belajar visual yaitu lebih cepat menerima pelajaran dengan melihat atau tipe kinesthetic alias fisik. Meminta anak secara untuk terus menerus belajar dengan cara yang kurang sesuai dengan tipe yang tepat untuk belajar anak hanya akan membuat anak tidak maksimal dalam menyerap isi pelajaran, sehingga anakpun tidak dapat berkembang dengan maksimal.

13. Berikan hadiah dan pujian atas keberhasilannya
Jika anak berhasil mendapatkan nilai yang bagus atau prestasi yang memuaskan, jangan segan-seganatau pelit untuk memberikan pujian. Sekecil apapun keberhasilan yang diraih anak Anda, layak bagi Anda untuk memberikan pujian. Selain itu, merayakan keberhasilan atau prestasinya seperti dengan membuatkan menu makan malam favoritnya juga bisa membuat anak jadi lebih semangat lagi untuk belaja

Rabu, 20 Mei 2015

5 Tips Menjadi Guru Terbaik dengan Hasil Karya Yang Bermanfaat


1. Bermimpilah untuk menjadi guru tidak biasa, apa maksudnya? jika kita sudah menguatkan diri untuk menjadi guru, maka bertekadlah dalam hati “saya tidak ingin menjadi guru biasa-biasa saja seperti kebanyakan guru pada umumnya”. karena ada lebih dari 3 juta guru di Indonesia, tapi hanya berapa persen guru yang hari-harinya terus melakukan kreativitas. Nah kita harus menjadi bagian dari guru yang di atas kemampuan rata-rata.
2. Belajarlah untuk mewujudkan mimpi tersebut dari guru-guru hebat disekitar kita. Sebelum kita bertekad mewujudkan mimpi kita untuk menjadi guru yang tidak biasa, langkah awal yang harus kita lakukan adalah banyak-banyak belajar dari guru-guru inspiratif di lingkungan sekitar kita, belajar dari guru-guru yang sudah mendapatkan berbagai penghargaan atas karya-karyanya, lihatlah apa sebenarnya yang sudah dilakukan guru tersebut sehingga bisa mendapatkan berbagai penghargaan.
3. Wujudkan mimpi lewat ide kreatif yang sederhana namun bermanfaat. Sekarang saatnya mewujudkan mimpi-mimpi kita untuk jadi guru luar biasa. buatlah ide kreatif yang sederhana di lingkungan sekolah yang nilai manfaatnya bisa dirasakan oleh warga sekolah. Misalkan kita melakukan gerakan “Masuk Lorong Pungut Sampah” atau “Satu langkah Satu Sampah” maksudnya adalah jika kita jalan di lorong-lorong atau halaman sekolah jika menemukan sampah pungutlah dengan tangan kita sendiri tidak usah menyuruh siswa. Lakukan kegiatan ini dengan konsisten selama setahun, saya yakin kita akan menjadi sosok inspiratif minimal bagi siswa-siswa kita.
4. Libatkan diri dalam membangun Ide Kreatif untuk sekolah. Beranilah dengan mengungkapkan gagasan dan ide kreatif kita kepada atasan kita misalkan yayasan atau kepala sekolah. Contohnya adalah gerakan “Diskusi Buku Mingguan” , nah tentu yang harus memulai adalah dari kita sendiri yaitu dengan cara merutinkan membaca buku setiap hari, meminjamkan buku kepada rekan sejawat, menceritakan hikmah-hikmah buku yang kita baca kepada siswa. Jika budaya ini sudah kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan gerakan yang lebih besar yaitu dengan cara melakukan kajian-kajian terhadap buku yang bisa memberikan nilai manfaat untuk diri sendiri dan orang lain.
5. Sabarlah dan teruslah berkarya. Menjadi guru beda atau di atas rata-rata dengan berbagai ide dan gagasan kreatifnya tidaklah semudah dengan apa yang saya tuliskan ini. Karena selalu saja ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan, oleh sebab itu tetaplah besar dan teruslah melakukan kebaikan-kebaikan sederhana yang bernilai manfaat.

Teryata ada hubungan antara sarapan dengan kemampuan konsentrasi pada anak

Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan (Judarwanto , 2008)
Tumbuh kembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan yang tidak benar dan menyimpang. Penyimpangan ini mengakibatkan gangguan pada banyak organ-organ dan sistem tubuh anak (Judarwanto, 2008)
Sarapan atau makan pagi adalah menu makanan pertama yang dikonsumsi seseorang. Biasanya orang makan malam sekitar pukul 19:00 dan baru makan lagi paginya sekitar pukul 06:00. Berarti selama sekitar 10-12 jam mereka puasa. Dengan adanya puasa itu, cadangan gula darah (glukosa) dalam tubuh seseorang hanya cukup untuk aktivitas dua sampai tiga jam di pagi hari. Tanpa sarapan seseorang akan mengalami hipoglikemia atau kadar glukosa di bawah normal. Hipoglikemia mengakibatkan tubuh gemetaran, pusing dan sakit berkonsentrasi. Itu semua karena kekurangan glukosa yang merupakan sumber energi bagi otak (Wiharyanti, 2006)
Studi mengenai sarapan yang dilakukan di IPB oleh Faridi, Madonijah dan Latifah menunjukkan bahwa 46,3 % anak di beberapa SD di Duren Sawit Jakarta Timur selalu sarapan, 41,3% kadang-kadang sarapan dan sisanya 12,4% tidak pernah sarapan. Presentase anak Hipoglikemi diukur pada pukul 09:00 relatif rendah (55%) dibandingkan anak yang tidak sarapan (73%) (Wiharyanti, 2006)
Berdasarkan penelitian “Breakfast Reduces Declines in Attention and Memory Over The Morning in SchoolChildren” yang dilakukan oleh K.A. Wesnes. C. Pincock, D. Richardson, G Helm, Shails ahli Gizi Inggris tahun 2003 dengan Metode Random pada 29 anak, tentang tingkat perhatian dan kemampuan daya ingat pada 30, 90, 150, 210 menit setelah sarapan dalam empat hari didapatkan hasil : Anak yang tidak sarapan dan hanya memperoleh minuman glukosa menunjukkan daya konsentrasi atau tingkat perhatian dan kemampuan mengingat yang menurun secara signifikan seiring dengan pertambahan waktu. Di sisi lain, anak yang mendapat sereal meski mengalami penurunan daya konsentrasi namun tidak signifikan. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa menu sarapan pagi yang mengandung karbohidrat kompleks memberikan pengaruh positif bagi anak dalam mempertahankan kemampuan konsentrasi belajar dan mengingat di sekolah. (Wiharyanti, 2006)
Bagi anak sekolah, meninggalkan sarapan membawa dampak yang kurang menguntungkan. Konsentrasi di kelas biasa buyar karena tubuh tidak memperoleh masukan gizi yang cukup. Sebagai gantinya, anak jajan di sekolah untuk sekadar mengganjal perut. Tetapi mutu dan keseimbangan gizi jadi tidak seimbang. Oleh karena itu kebiasaan sarapan hendaknya dipertahankan dalam setiap keluarga ( Khosman, 2002 dalam Mardiah, 2005).
Kebiasaan makan pagi termasuk ke dalam salah satu 13 pesan dasar gizi seimbang. Bagi anak sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan memudahkan menyerap pelajaran sehingga meningkatkan prestasi belajar (Depkes, 2002). Penelitian Sri Desfita, 2008 menemukan 41,7% subjek jarang makan pagi. Hal ini banyak disebabkan karena subjek tidak memiliki cukup waktu untuk makan pagi.
Terdapat beberapa alasan untuk tidak makan pagi seperti tidak lapar, tidak ada waktu, tidak ada yang menyiapkan makanan, tidak suka makanan yang disiapkan, makanan tidak ada dan sebagainya (Muhilal & Damayanti, 2006). Penelitian Kurniasari, 2005 di Yogyakarta menunjukkan 25% anak SD jarang makan pagi dengan alasan tidak sempat, tidak terbiasa dan tidak selera. Berdasarkan laporan BPS Kabupaten Majalengka (2006), hanya 15,2% anak SD yang mempunyai kebiasaan makan pagi. Pada umumnya anak sudah diberi uang jajan sementara makanan yang dijajakan di sekolah kurang terjamin kandungan gizinya (Wiyono, 2008)
Makan pagi dapat menyumbang seperempat dari kebutuhan gizi sehari yaitu sekitar 450-500 kalori dengan 8-9 gram protein. Selain kandungan gizinya cukup, bentuk makan pagi sebaiknya juga disukai anak-anak dan praktis pembuatannya (Muhilal & Damayanti, 2006).
Kebiasaan makan pagi dapat berkontribusi terhadap status gizi anak. Anak yang biasa makan pagi akan dapat memenuhi kebutuhan gizinya dalam sehari. Penelitian Irawati (2000) menemukan anak yang tidak biasa makan pagi berisiko terhadap status gizi kurang (Wiyono, 2008)
Kekurangan gizi menyebabkan anak mudah lelah, tidak kuat melakukan aktivitas fisik yang lama, tidak mampu berpikir dan berpartisipasi penuh dalam proses belajar. Risiko untuk menderita penyakit infeksi lebih besar pada anak yang kurang gizi, sehingga tingkat kehadirannya rendah di sekolah (Muhilal & Damayanti, 2006).
Hasil analisis data dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2005) menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan gizi kurang pada anak usia sekolah yaitu pada Tahun 2004 dan Tahun 2005. Tahun 2004, dari 17.835 anak usia sekolah ditemukan sebanyak 435 anak usia sekolah berstatus gizi buruk dan 7.400 anak usia sekolah lainnya gizi kurang, dan yang status gizinya baik hanya sekitar 10.000 orang anak. dibandingkan dengan Tahun 2004, angka anak usia sekolah gizi kurang mengalami peningkatan, Tahun 2005 dari 16. 076 anak usia sekolah yang mempunyai status gizi buruk yaitu 476 anak, 7.600 anak usia sekolah lainnya gizi kurang, dan yang status gizinya baik hanya sekitar 8.000 orang anak (Arisman, 2006).
Secara Nasional prevalensi Status gizi penduduk umur 6-14 tahun (usia sekolah) untuk kategori kurus adalah 13,3% pada laki-laki dan 10,9% pada perempuan. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9,5% dan perempuan 6,4%. Provinsi Sulawesi Selatan prevalensi Kurus baik pada Laki-laki maupun perempuan lebih tinggi dari angka nasional yaitu 15.5% dan 13.4%. (Riskesdas Sul-Sel, 2007).
Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak stunted (UNICEF 1998 dalam Beban Ganda Masalah dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nasional, 2005). Lebih dari sepertiga (36,1%) anak usia sekolah di Indonesia tergolong pendek ketika memasuki usia sekolah yang merupakan indikator adanya kurang gizi kronis. Prevalensi anak pendek ini semakin meningkat dengan bertambahnya umur dan gambaran ini ditemukan baik pada laki-laki maupun perempuan. Jika diamati perubahan prevalensi anak pendek dari tahun ke tahun maka prevalensi anak pendek ini praktis tidak mengalami perubahan oleh karena perubahan yang terjadi hanya sedikit sekali yaitu dari 39,8% pada tahun 2002 menjadi 36,1% pada tahun 2004 (Depkes, 2004 dalam Pamularsih, 2009).
Pengaruh makanan terhadap perkembangan otak, apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan, dan keadaan ini berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, berakibat terjadi ketidakmampuan berfungsi normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan badan terganggu, badan lebih kecil diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil. Jumlah sel dalam otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak. Keadaan ini berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak (Anwar, 2008 dalam Pamularsih, 2009).

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Kepada Anak



Orang tua memiliki anak tahu betul kehadiran `malaikat kecil` itu suatu nikmat yang tak ternilai tapi bisa membuat stres. Orangtua pun penting mengajarkan dan menyampaikan nilai-nilai yang baik sejak anak-anak masih kecil. Tapi, yang lebih penting memunculkan rasa percaya diri pada anak dalam kemampuannya.

Jika Anda ingin membantu membangun rasa percaya diri pada anak, cobalah beberapa strategi yang diberikan LifeHack, Jumat (28/2/2014):

1. Bicara dengan anak dan cari tahu apa masalahnya

Komunikasi yang efektif itu penting untuk membangun hubungan sehat dan langgeng. Anak Anda mungkin bingung dan takut serta memiliki banyak pertanyaan tentang dunia ini.
Anak-anak bisa saja merasa tak bisa dan merasa tak aman dengan tubuhnya atau diintimidasi. Hal ini penting untuk membangun kepercayaannya dan membiarkan anak memberitahu Anda mengapa ia merasa tak yakin dengan dirinya sendiri sehingga Anda bisa bekerja sama untuk mencari solusinya.

2. Bantu anak menemukan kegiatan yang membuat ia senang

Beberapa anak dilahirkan dengan suara yang luar biasa, beberapa memiliki telinga yang baik untuk musik, dan lainnya memiliki struktur tulang dan otot yang bisa membuat mereka menjadi atlet hebat, atau memiliki imajinasi luas untuk bercerita.

Cari tahu apa bakat alami anak Anda dan bantulah agar ia terlibat dalam kegiatan yang paling menyenangkan untuknya. Menari, melukis, bermain musik, atau sesuatu yang lebih pragmatis seperti matematika semuanya adalah pilihan yang baik. Hanya saja, pastikan anak Anda termotivasi.

3. Jadilah pemaaf kepada orang lain dan tunjukkan anak Anda bahwa kasih sayang merupakan kebaikan

Semua orang membuat kesalahan dan itu adalah bagian dari pendewasaan dan langkah penting dalam mencapai kebijaksaaan. Dengan berlatih memaafkan, Anda membiarkan anak Anda tahu bahwa apapun yang mereka salah karena sejumlah alasan, itu baik-baik saja.

Hal ini juga menunjukkan kepada mereka bahwa meskipun orang terkadang berdebat dan perasaannya terluka, cobalah berempati dan berkompromi. Anak Anda akan mempelajarinya dari Anda dan mulai berlatih memaafkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Ajarkan anak untuk fokus dalam membangun hubungan bermakna, mencari kebahagiaan dalam hal kecil dan berusaha sukses

Banyak orang mencapai kekayaan, kekuasaan, dan keterampilan pada tingkat tertentu. Namun, mereka tak pernah menaklukkan ketakutan mereka dan tetap yakin dengan diri mereka sendiri. Ajarkan anak Anda tentang nilai persahabatan sejati dan bagaimana orang lain bisa membantu membuat Anda lebih kuat.

Ajarkan mereka beralih ke ratusan hal kecil yang positif dalam hidupnya ketika mencari kebahagiaan serta menjadi ambisius dan gigih.
Kegagalan hanya kesempatan untuk datang kembali bahkan lebih kuat dan Ada teman-teman yang baik di sana yang mendukung Anda. Tak ada cara yang lebih baik membantu anak membangun harga dirinya dibandingkan menunjukkan kepada mereka nilai dari orang lain.

5. Ajarkan anak menetapkan cita-cita yang dicapai

Ingin menjadi manusia pertama di Mars, seorang balerina terkenal di dunia, atau bintang film merupakan cita-cita yang ambisius dan menunjukkan betapa kreatif anak Anda, tapi mereka mungkin tak terjangkau.

Bukan ide yang baik memberikan pujian sepanjang waktu kepada anak Anda dan berikan mereka gambaran yang realistis dari diri mereka serta kemampuannya. Biarkan mereka memilih, tapi tawarkan alternatifnya. Bantu anak-anak Anda merumuskan beberapa tujuan jangka pendek yang mudah dicapai dengan kerja keras dan tujuan yang lebih kecil untuk jangka panjang tapi masih dalam jangkauan.

Misalnya, jika Anda mendaftarkan kelas tari, tujuan jangka pendeknya adalah bisa menguasai gerakan tertentu dan berlatih minimal 2 jam setiap hari, sementara tujuan yang lebih besar mungkin kompetisi tari tingkat lokal. Akhirnya, mereka bisa berusaha meningkatkan dan memenangkan beberapa kompetisi yang lebih besar.

Ketika mereka mencapai cita-citanya, mereka merasa lebih percaya diri dan lebih bahagia.

6. Ajarkan anak bagaimana teratur dan belajar untuk hasil terbaik

Banyak orang percaya belajar adalah duduk dan menatap buku selama berjam-jam. Ini bisa menyebabkan anak frsutasi dan percayalah dia tak menjadi pintar.

Seorang anak membutuhkan keseimbangan yang baik antara belajar, melakukan tugas mereka, dan bersenang-senang. Keseimbangan itu hanya bisa dicapai dengan mengatur waktu secara efektif.

Beberapa mata pelajaran bisa lebih sulit bagi anak-anak dibanding yang lain dan mereka mungkin memiliki masalah ketika berlomba melawan jam. Tes bisa membuat stres dan mengambil semua kesenangan dari belajar.

Anda bisa mencoba membuat belajar menjadi menyenangkan dnegan film, video game, atau contoh-contoh praktis, yang bisa memberikan keajaiban agar anak-anak tertarik.

7. Daftarkan anak Anda di kelas yang fokus pada aktivitas fisik

Pikiran yang sehat berada dalam tubuh sehat. Latihan fisik di siang hari tak hanya bermanfaat untuk kesehatan anak, taoi juga membantu mengembangkan tubuh yang kuat dan lincah yang bisa dibanggakan.

Sambil berolahraga akan memungkinkan anak-anak meningkatkan keterampilan sosialnya.

8. Bermain dengan anak setiap ada kesempatan

Beberapa kontak emosional dan fisik dengan orang lain setiap hari sangat penting bagi anak. Curahkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka, terlibat dalam beberapa kegiatan kreatif dan ajarkan mereka beberapa keterampilan berharga.

Apapun yang dibuat menjadi sebuah mainan akan menciptakan banyak kesempatan agar anak mau bekerja tim, memecahkan masalah, dan mengekspresikan dirinya secara bebas.

9. Menjadi teladan baik dengan mempraktikkan apa yang Anda katakan

Anak-anak hanya menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya dan akan beralih ke Anda sebagai sumber utama informasi tentang prilaku yang bisa diterima.

Pastikan Anda menunjukkan kepada anak bagaimana seseorang harus bersikap, jangan hanya memberitahukan apa yang harus mereka lakukan dan kemudian lakukan apa yang sering Anda katakan agar mereka tak lakukan.

Jika anak melihat orangtuanya tak takut mengekspresikan dirinya, maka mereka akan mencoba menjadi baik kepada orang lain dan sangat terbuka. Anak akan meniru perilaku percaya diri ini dalam hidup mereka.

10. Ajarkan anak tanggung jawab dan nilai kerja keras

Seorang anak tak boleh diberlakukan standar yang tinggi sama seperti orang dewasa, tapi mereka harus memahami bahwa tindakan mereka mempengaruhi orang lain dan ada orang yang mengandalkan mereka.

Jika anak mengerti mengapa mereka perlu melakukan pekerjaan mereka dan dibutuhkan kerja keras untuk mencari nafkah, ia akan memiliki pandangan yang berbeda tentang kehidupan.

Anak-anak sering senang untuk membantu orang tua mereka dan merasa bangga ketika mereka berkontribusi. Dengan cara ini, anak-anak tahu bahwa mereka mampu dalam banyak hal dan orang-orang bergantung padanya, yang membangun karakter dan membantu membangun kepercayaan diri pada anak.

Saat ingin membantu anak membangun rasa percaya dirinya, penting diingat berkomunikasilah, habiskan waktu dengannya dan biarkan mereka membuat pilihan sendiri.


Menurut anda adakah cara lain yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak?

Bu guru ku itu bernama Bu Novi



Pagi ini begitu berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, ya maklum saja aku baru saja pindah dari kota yang sumpek, padat, dan panas yaitu Jakarta, aku pindah karena ayah dipindah tugaskan dari kantornya dari Jakarta ke Jogjakarta. Sejujur nya aku sangat sedih, bagaimana tidak aku mempunyai teman-teman yang baik padaku disini, tetapi aku ingin sekali merasakan menuntut ilmu di kota yang dijuluki kota pelajar itu. Sebelum aku  menceritakan kisahku aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan nama ku Sarah Viana S, teman-teman memanggil ku Sarah. Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku  mempunyai satu adik laki-laki bernama Restu. Sekarang aku duduk di bangku SMA kelas dua. Kata teman-teman,  aku orang yang mudah bergaul menurut aku sih aku biasa aja tapi kalau mereka bilang seperti itu ya alhamdullilah hehe.     
 Hari ini, hari pertama aku sekolah. Aku sekolah di salah satu sekolah negeri di kota Sleman, Jogjakarta. Betapa bersemangat nya aku ketika ayah mengantarku ke sekolah di hari pertamaku sekolah di sini. Aku sangat kaget ketika aku melihat banyak murid-murid disini menggunakan sepeda  ontel untuk alat transportasinya ke sekolah, sedangkan ketika aku sekolah di sekolah ku dulu jangankan sepeda naik sepeda motor saja jarang  sekali murid-karena mereka sudah memiliki antar jemput yang akan mengantar mereka dan menjemput mereka ketika mereka berangkat dan pulang sekolah.





Bersambung……

Selasa, 19 Mei 2015

Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget




TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET

1.    Pendahuluan
Perkembangan anak manusia merupakan sesuatu yang kompleks, artinya banyak faktor yang turut berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak. Memahami perkembangan kognitif sangatlah diperlukan bagi seorang pengajar dan orang tua. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam sekolah.
Dalam perkembangan kognitif di sekolah, guru sebagai tenaga kependidikan yang bertanggung jawab dalam melaksanakan interaksi edukatif dan pengembangan kognitif peserta didik, perlu memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang perkembangan kognitif pada anak didiknya.
Orang tua juga tidak kalah penting dalam kognitif anak karena perkembangan dan pertumbuhan anak dimulai di lingkungan keluarga. Namun, sebagian pendidik dan orang tua belum terlalu memahami tentang perkembangan kognitif anak, karakteristik perkembangan kognitif, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah perkembangan kognitif anak.
Oleh karena itu, mengingat pentingnya perkembangan kognitif bagi peserta didik, diperlukan penjelasan perkembangan kognitif lebih detail baik pengertian maupun tahap-tahap karakteristik perkembangan kognitif peserta didik.
Dalam pembahasan proses perkembangan kognitif, ada dua alternative proses perkembangan kognitif yaitu pada teori dan tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Piaget dan proses perkembangan kognitif oleh para pakar psikologi pemprosesan informasi. Disini akan di jelaskan perkembangan kognitif menurut piaget Piaget meyakini bahwa pemikiran seorang anak berkembang dari bayi sampai dia dewasa. Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif.



2.        Materi
A.      Biografi Tokoh
Jean Piaget lahir di Neuchâtel, Swiss , yang berbahasa Perancis pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Dia adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.
B.       Teori Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Piaget mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk menguasai gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan akan menambah pemahaman mereka terhadap dunia.
Teori perkembangan piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dan menginterprestasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi. Piaget percaya bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau periode-periode yang terus bertambah kompleks. Tahap-tahap perkembangan menurut Piaget ini diringkas dalam tabel berikut:
Tahap
Usia/tahun
Gambaran
Sensorimotor
0-2
Bayi bergerak dari tindakan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis
Preoperational
2-7
Anak mulai merepre-sentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar.
Concrete operational
7-11
Pada saat ini anak dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa yang konkrit dan mengkalsifi-kasikan  benda dalam bentuk berbeda
Formal Operational
11-15
Anak remaja berpikir dengan cara yang lebih abstrak dan logis.
Untuk menunjukakan struktur kognitif yang mendasari pola-pola tingkah laku yang terorganisir, Piaget menggunakan istilah skema dan adaptasi.
a)    Skema (Struktur kognitif) adalah proses atau cara mengorganisir dan merespon berbagai pengalaman. Dengan kata lain skema adalah suatu pola sistematis dari tindakan, perilaku, pikiran, dan strategi dalam menghadapi berbagai tantangan dan jenis situasi.
b)   Adaptasi (struktur fungsional) adalah sebuah istilah yang digunakan piaget untuk menunjukkan pentingnya pola hubungan individu dengan lingkungannya dalam proses perkembangan kognitif. Menurut  Piaget adaptasi ini terdiri dari dua proses yang saling melengkapi, yaitu asimilasi dan akomodasi.
ü  Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada.
ü  Akomodasi dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skema yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu
Piaget mengemukakan bahwa setiap organisme yang ingin mengadakan adaptasi dengan lingkungannya harus mencapai keseimbangan (ekuilibrium), yaitu antara aktivitas individu terhadap lingkungan (asimilasi) dan aktivitas lingkungan terhadap individu (akomodasi). Agar terjadi ekuilibrasi antara diri individu dengan lingkungan, maka peristiwa-peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu, bersama-sam dan komplementer. Organisasi kecenderungan individu untuk menyatukan berbagai skema menjadi satu sistem yang koheren (berkait dan menjadi kesatuan).
Adapun penjelasan selengkapnya mengenai tahapan-tahapan perkembangan mental Piaget dalam Ruseffendi (2006) adalah sebagai berikut:
1. Tahap sensori motorik (sensori motor stage/ 0-2 thn)
Pada tahap sensorimotor, inteligensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau dan lain-lain. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi yang baru.
Adapun ciri-ciri tahap sensori motor adalah sebagai berikut:
a.    Anak belajar mengembangkan dan menyelaraskan jasmaninya dengan perbuatan mentalnya menjadi tindakan-tindakan atau perbuatan yang teratur dan pasti.
b.    Anak berpikir melalui perbuatan dan gerak.
c.    Perkembangan yang terjadi pada tahap ini adalah dari gerak refleks ngemot dan gerak mata sampai pada kemampuan untuk makan, melihat, memegang, berjalan, dan berbicara.
d.   Pada akhir tahap ini, anak belajar mengaitkan simbol benda dengan benda konkretnya, hanya masih kesulitan.
e.    Pada akhir tahap ini pula, anak mulai melakukan percobaan coba-coba berkenalan dengan benda-benda konkret (dengan menyusunnya, mengutakatik, dan lain-lain).
2. Tahap pre operasi (pre operational stage/2-7 thn)
Dalam tahap ini anak sangat egosentris, mereka sulit menerima pendapat orang lain. Tahap ini adalah tahap dimana anak mulai melakukan persiapan dalam pengorganisasian operasi konkret. Tahap perkembangan ini dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, tahap berpikir pre konseptual (sekitar usia 2 – 4 tahun), dimana representasi suatu objek dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan. Kedua, tahap berpikir intuitif (sekitar usia 4 – 7 tahun), dimana pada tahap ini representasi suatu objek didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran.
Adapun ciri-ciri tahap perkembangan pre operasi adalah sebagai berikut:
a.    Sebaran umur sekitar 2 – 7 tahun; tahap berpikir pre konseptual sekitar 2 –4 tahun dan tahap berpikir intuitif sekitar 4 – 7 tahun.
b.    Pada tahap pre konseptual memungkinkan representasi sesuatu itu dengan bahasa, gambar, dan permainan khayalan.
c.    Anak mengaitkan pengalaman yang ada pada dunia luar dengan pengalaman pribadinya.
d.   Pada tahap ini, anak tidak dapat membedakan antara kejadian-kejadian yang sebenarnya (fakta) dengan khayalannya (fantasi). Oleh karena itu, jika dia berdusta “berdustanya” itu bukan karena moralnya jelek, tetapi karena kelemahannya.
3. Tahap operasi kongkrit (concrete operational stage/7-12 thn)
Pada tahap ini, anak dapat memahami operasi (logis) dengan bantuan benda-benda kongkrit. Yang dimaksud operasi dengan bantuan benda-benda kongkrit disini adalah tindakan atau perbuatan mental mengenai kenyataan dalam kehidupan nyata. Anak tidak perlu selalu dengan bantuan benda-benda kongkrit ketika melakukan operasi.
Adapun ciri-ciri anak tahap operasi kongkrit adalah sebagai berikut:
a.    Sebaran umur dari sekitar 7 – 11 atau 12 tahun, kadang-kadang lebih.
b.    Pada permulaan tahap ini, egoismenya mulai berkurang.
c.    Dapat mengelompokkan benda-benda yang mempunyai beberapa karakteristik ke dalam himpunan dan himpunan bagian dengan karakteristik khusus dan dapat melihat beberapa karakteristik suatu benda secara serentak.
d.   Mampu berkecimpung dalam hubungan kompleks antara kelompokkelompok,.
4. Tahap operasi formal (formal operational stage/ 12 tahun ke atas)
Tahap operasi formal merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu, dan cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti.
Adapun ciri-ciri tahap operasi formal adalah sebagai berikut:
a.    Tidak memerlukan perantara operasi konkret lagi untuk menyajikan abstraksi mental secara verbal.
b.    Mulai belajar merumuskan hipotesis (perkiraan) sebelum ia berbuat.
c.    Dapat merumuskan dalil/teori, menggeneralisasikan hipotesis, dan mengetes bermacam hipotesis.
d.   Dapat berpikir deduktif dan induktif, dapat memberikan alasan-alasan dari kombinasi pernyataan dengan menggunakan konjungsi, disjungsi, negasi, dan implikasi, serta memahami induksi matematika.
Kelebihan teori perkembangan Piaget adalah kejeniusannya dalam mengobservasi anak. Observasi-observasinya yang sangat teliti telah mendemonstrasikan langkah baru dalam menemukan bagaimana anak-anak berperilaku dan beradaptasi dengan perkembangan, seperti perpindahan dari tahap pemikiran praoperasional menuju operasional konkret (Haith dan Benson, dalam Santrock: 2007).
Sedangkan kelemahan teori Piaget ini adalah setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan. Bisa saja seorang anak akan mengalami tahap praoperasional lebih lama dari pada anak yang lainnya sehingga umur bukanlah patokan utama.
C.      Implementasi Pada Pembelajaran
Penerapan teori perkembangan kognitif Piaget di kelas adalah:
·           Guru harus mengerti cara berpikir anak, bukan sebaliknya anak yang beradaptasi dengan guru.
·           Agar pembelajaran yang berpusat pada anak berlangsung efektif. Metode yang baik digunakan adalah dengan menemukan (discovery).
·           Tidak menghukum siswa jika menjawab pertanyaan yang salah.
·           Menekankan kepada para siswa agar mau menciptakan pertanyaa-pertanyaan  dari permasalahan yang ada serta pemecahan permasalahannya.
·           Membimbing siswa dalam menemukakan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
·           Menghindari istilah-istilah teknis.
·           Menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak karena Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa.
·           Menganjurkan para siswa berpikir dengan cara  mereka sendiri.
·           Memilih pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
·           Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
·           Memberi peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di beri peluang untuk berbicara dab diskusi dengan temannya.




3.        Penutup
A.    Kesimpulan
Teori perkembangan piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dan menginterprestasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi. 4 Konsep yang terdapat pada perkembangan Piaget dalam menerima informasi atau situasi yang baru, yaitu: skema, asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi.
Tahapan-tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget meliputi: Tahap sensori motorik (sensori motor stage/ 0-2 thn), Tahap pre operasi (pre operational stage/2-7 thn), Tahap operasi kongkrit (concrete operational stage/7-12 thn), dan Tahap operasi formal (formal operational stage/ 12 tahun ke atas).
Implementasi perkembangan kognitif Piaget dapat dilakukan dengan : Guru harus mengerti cara berpikir anak,. Metode yang baik digunakan adalah dengan menemukan (discovery). Tidak menghukum siswa jika menjawab pertanyaan yang salah. Menekankan kepada para siswa agar mau menciptakan pertanyaa-pertanyaan  dari permasalahan yang ada serta pemecahan permasalahannya. Membimbing siswa dalam menemukakan dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Menghindari istilah-istilah teknis. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak karena Bahasa dan cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. Menganjurkan para siswa berpikir dengan cara  mereka sendiri. Memilih pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Memberi peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di beri peluang untuk berbicara dab diskusi dengan temannya.





DAFTAR RUJUKAN

Desmita, 2007, Psikologi Perkembangan : PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Farida Harahap, M.Si, Perkembangan Kognitifteori Piaget
Thobroni  M & Mustofa  Arif, 2011, Belajar & pembelajaran, Jogjakarta : Ar Ruzz Media